Salman Alfarisi

Kisah Pencari Hidayah

Salman Alfarisi berasal dari “Ji”, sebuah desa yang berada di wilayah Isfahan, Persia. Ayahnya adalah ketua daerah tersebut. Salman pada mulanya merupakan seorang penganut agama majusi yang sangat taat dan disegani, sehingga ia mendapatkan kepercayaan untuk menjadi penjaga api yang bertugas menjaga nyala api agar tidak pernah padam. Ia adalah sosok yang berperawakan kokoh, tinggi jangkung, dan bertenaga. Kemauannya sangat keras dan berhati tulus.

Ia terkenal akan kesederhanaan dan kezuhudannya. Kesederhanaannya nampak ketika ia hendak mendirikan rumah. Ia bertanya kepada tukangnya,” bagaimanakah tipe rumah yang kamu kehendaki?”. Tukangnya dengan  lugas menjawab,” Anda jangan khawatir! Rumah hanyalah bangunan yang berfungsi sebagai naungan di waktu panas dan tempat berteduh di waktu hujan. Jika anda berdiri, maka kepala anda terantuk langit-langitnya. Dan jika anda berbaring, maka kaki anda menyentuh dindingnya.” “Benar, seperti itulah rumah yang harus anda bangun.” perintah Salman.

Di samping itu ia juga pribadi yang cerdas. Rasulullah sendiri sering memuji kecerdasan dan keluasan pengetahuannya. Maka dari itulah, di waktu perang Khandaq, kaum Anshar berdiri dan berkata, “Salman dari golongan kami.” Namun kaum Muhajirin tak mau kalah, mereka menjawab, “Tidak, ia dari golongan kami.” Maka Rasulullah dengan bijak menengahi. “Salman adalah golonganku, ahlul bait.” Tegas Rasulullah SAW. Ali bin Abi Thalib menggelari Salman dengan “Luqman Alhakim”.

PERJALANAN MENUJU HIDAYAH

Suatu ketika Salman disuruh ayahnya memeriksa sebidang tanah miliknya. Sebagai anak berbakti kepada orangtua ia melaksanakan perintah itu. Dalam perjalanan, Salman melintasi sebuah gereja milik kaum Nasrani asal Syria. Ia masuk dan melihat peribadatan kaum Nasrani di dalamnya dan timbullah ketertarikan dalam dirinya. Ia berbicara dengan salah seorang diantara mereka hingga larut malam. Sepulangnya, ia membicarakan perihal gereja itu kepada ayahnya dan mendiskusikan ketertarikannya pada agama Nasrani. Akibatnya Salman dihukum penjara beberapa lama. Namun hal itu tak menyurutkannya. Ia berhasil meloloskan diri dan bergabung dengan kaum Nasrani menuju Syria. Disana ia berkhidmat kepada seorang uskup. Dan ia merasa sangat kecewa setelah mengetahui bahwa sang uskup ternyata menyalahgunakan jabatannya. Ia mengumpulkan harta sedekah jemaatnya untuk keperluannya sendiri. Setelah si uskup meninggal dan digantikan uskup yang baru. Salman mendapatkan uskup baru sebagai sosok yang taat, sehingga ia amat mencintainya. Ketika si uskup hendak meninggal, ia menyarankan Salman agar berkhidmat kepada seorang pendeta di Mosul. Salman pun mentaatinya. Ia pergi ke Mosul untuk berkhidmat kepada pendeta yang diisyaratkan uskup. Ketika si pendeta hendak meninggal, ia menyarankan Salman agar berkhidmat kepada seorang soleh di kota Nasibin. Maka Salman pergi ke Nasibin untuk berkhidmat beberapa lama kepada orang soleh tersebut. Ketika menjelang ajalnya, orang soleh tersebut menyarankan Salman agar mengikuti seorang pemimpin di kota Amuria. Kembali Salman melaksanakan saran itu. Ia pergi ke Amuria dan tinggal beberapa lama bersama pemimpin tersebut. Dan menjelang ajalnya, pemimpin Amuria itu mengisyaratkan kepada Salman perihal akan datangnya nabi terakhir di jazirah arab dan sekaligus menggambarkan sifat-sifatnya yang diantaranya adalah bahwa ia tak mau memakan harta sedekah dan dipundaknya terdapat stempel kenabian.

Dan pada suatu ketika, lewatlah rombongan kafilah dari arab. Maka Salman  bergabung dengan mereka menuju arab. Namun mereka malah memperbudak Salman dan menjualnya kepada seorang yahudi di Wadil Qura yang kemudian membawanya ke Madinah.

Pada suatu hari ketika Salman sedang bekerja di perkebunan milik majikannya. Tiba-tiba datang seseorang dengan tergopoh-gopoh menemui majikannya dan memberitahukan perihal seseorang yang mengaku nabi datang dari Mekkah hendak ke Madinah dan sedang singgah di Quba. Mendengar kabar itu Salman ikut penasaran. Pada saat hari petang selesai bekerja, ia dengan perbekalan secukupnya pergi menemui Rasulullah SAW lalu memberikan perbekalannya dengan niat sedekah kepada beliau. Namun Rasulullah SAW memberikan semuanya kepada para sahabatnya tanpa menyentuhnya sedikitpun. Maka Salman mulai meyakini kebenaran isyarat pendeta Amuria. Keesokan harinya Salman kembali menemui Rasulullah seraya membawa makanan tanpa niatan sedekah. Maka Rasulullah memakannya bersama-sama para sahabat. Dan Salaman pun semakin yakin. Dan pada hari yang lain ketika Rasulullah berada di Baqi’ sedang mengiringkan jenazah, Salman lagi-lagi menemuinya dan mengucapkan salam kepada beliau. Mendengar salam dari Salman, Rasulullah tiba-tiba menyingkap kain burdah di leher beliau hingga nampak stempel kenabian di leher beliau. Begitu melihat tanda kenabian itu, Salman langsung menangis, meratap sambil menciumi Rasulullah SAW. lalu ia menceritakan petualangan panjangnya dan kemudian masuk Islam.

PAHLAWAN KHANDAQ

Pada tahun kelima Hijriyah. Beberapa pemuka Yahudi menghasut orang-orang musyrik agar bersekutu menghancurkan kaum muslimin di Madinah. Mereka pun merancang strategi, yaitu nantinya tentara Quraisy dan Ghathfan akan menyerang kaum muslim dari luar kota, sedangkan Bani Quraidhah (Yahudi) menyerang dari dalam kota. Dan ketika hari yang ditentukan tiba. Datanglah dua puluh empat ribu prajurit dengan persenjataan lengkap dari berbagai kabilah dan suku dibawah pimpinan Abu Sofyan dan Uyainah bin Hishn menghampiri kota Madinah dan mengepung kaum muslimin Madinah.

Dalam kedaan terjepit, Rasulullah mengumpulkan para sahabatnya untuk bermusyawarah menentukan strategi bertahan macam apa yang dapat mereka lakukan mengahadapi kepungan pasukan kafir dalam jumlah yang sangat besar. Saat itulah, Salman Alfarisi yang sebelumnya di Persi mempunyai pengetahuan luas mengenai tekhnik dan strategi perang mengajukan usul dibuatnya parit-parit sebagai perlindungan di daerah Madinah yang terbuka. Ia mengajukan usul tersebut setelah mempelajari kondisi geografis kota Madinah. Usul brilian itu pun diterima Rasululah dan dilaksanakanlah pengalian parit atau khandaq.

Ketika tentara kaum musyrik hendak memasuki kota Madinah untuk menyerbu, mereka terkejut dan merasa terpukul dengan adanya parit membentang di hadapan mereka yang tak pernah mereka sangka-sangka sebelumnya. Sehingga tidak kurang sebulan lamanya mereka hanya terpaku di kemah-kemah tanpa ada kemampuan memasuki kota. Sampai pada akhirnya, pada suatu malam, Allah SWT mengirim angin topan menerbangkan kemah-kemah dan memporak-porandakan tentara kaum musyrik. Strategi penggalian parit-parit usul Salman tersebut tidak pernah ada sebelumnya dalam sejarah peperangan di jazirah arab.

Ketika dalam keadaan sakit yang parah dan menjelang ajalnya. Salman memanggil isterinya untuk mengambil suatu barang yang pernah dititipkanya. Dan ternyata hanyalah seikat kesturi yang ia dapatkan sewaktu pertempuran pembebasan Jalula. Kesturi itu sengaja ia simpan untuk wangi-wangian di hari menjelang wafatnya. Kemudian ia menyuruh isterinya mengambil secangkir air yang kemudian ia taburi dengan kesturi. “Sekarang percikkanlah air ini ke sekelilingku, sekarang telah hadir di hadapanku makhluk Allah yang tiada pernah makan, hanya saja ia menyukai bau wewangian.” Minta Salman kepada isterinya. Dan makhluk yang ia maksud tiada lain adalah malaikat yang akan mengambil ruhnya. “Tutuplah pintu dan turunlah!” perintah Salman kepada isterinya yang langsung dilaksanakan. Dan tak lama setelah isterinya masuk rumah kembali, ia mendapatkan Salah satu sahabat terbaik nabi SAW itu telah meninggal dunia.CN : 57